Lanjut Usia
(Popular Writing - Fiction)
"Kehilangan itu memang menyedihkan, apalagi ketika kamu harus kehilangan sosok yang selalu ada di sisimu. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa setiap orang akan mengalami perasaan itu... suatu saat nanti."
Kulihat ia sedang berbaring disana, di tempat ia biasa berbaring. Yang bisa ia lakukan hanyalah memandang langit-langit kamar yang sudah kumuh, menonton televisi yang terletak disampingnya, dan meneguk teh hangat yang sudah disediakan untuknya. Bagaimana ia bisa berjalan apabila kakinya yang besar itu sudah tak dapat lagi merasakan apa-apa? Bagaimana ia bisa bangun dari ranjang apabila tulangnya sudah tak mampu lagi menahan tubuhnya untuk berdiri? Bagaimana ia bisa bernafas dengan tenang apabila jantungnya tidak bisa berdetak dengan normal lagi?
Ya, ia sudah tidak seperti dulu lagi. Tubuhnya sudah sangat lemah. Fisiknya sudah sangat lemah. Kanker sudah menyerang sekujur tubuhnya. Menyedihkan, bukan? Padahal tiga tahun lalu ia masih ikut bersama denganku ke Puncak untuk merayakan tahun baru bersama. Padahal dua tahun lalu ia masih bisa bercerita kepadaku tentang masa lalunya saat menjadi tentara di Bali. Padahal beberapa bulan yang lalu ia masih bercerita padaku tentang kisah cintanya dengan wanita yang sangat ia cintai. Hanya dalam kurun waktu beberapa minggu saja keadaan menjadi seperti ini, kelabu.
Kelabu.
Warna ini bermula karena kejadian itu, kejadian 3 bulan lalu.
Tiga bulan lalu mungkin adalah hari terburuk baginya, Kakekku, karena pada saat itu ia kehilangan orang yang sangat dicintainya untuk selamanya. Ya, tiga bulan yang lalu nenekku meninggal dunia. Ia meninggalkan dunia ini karena penyakit yang dideritanya sejak 30 tahun lalu, stroke. Cukuplah bagi Nenek untuk berjuang melawan penyakit itu di dunia ini.
***
"Pi, Mami sudah pulang," kata Om Eko kepada Kakek. Kakek pun langsung menyadari bahwa maksud Om Eko adalah nenek sudah pulang ke dunia yang berbeda, bukan di dunia tempat kita berada. Mendengar hal tersebut, Kakek pun langsung lemas dan ia hanya duduk di sofa ruang tamu dengan tatapan kosong. Diam. Ia terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar.
Beberapa menit kemudian, Kakek pun berdiri lalu berjalan keluar rumah.
"Sekarang Mami dimana?" tanya Kakek. "Sekarang sudah dibawa ke Dharmais, Pi," jawab Om Eko. Tanpa banyak bicara, mereka berdua pun masuk ke mobil. Aku mengikuti mereka dan duduk di bangku belakang mobil. Perjalanan menuju ke Rumah Duka Dharmais berlangsung dengan sunyi. Tidak banyak yang bisa dibicarakan.
Akhirnya tibalah kami bertiga di Rumah Duka Dharmais. Kulihat Kakek berjalan dengan postur yang sedikit bungkuk ke dalam sebuah ruangan. Didalam terdapat sebuah peti berwarna putih, dikelilingi oleh Om, Tante, Mami, Papi, dan beberapa keluarga dari Nenekku. Ternyata mereka semua sudah berkumpul disini menunggu kedatangan Kakekku. Kakek menuju peti tersebut, dan melihat seorang wanita yang sudah berbaring di dalamnya. Kakek membuka kain berjaring yang menutupi peti tersebut, lalu memandang wajah Nenek yang pucat. Ia pun tersenyum, membelai rambut Nenek, lalu mencium Nenek.
Tidak lama kemudian, terdengar isak tangis yang tidak asing lagi. Ya, pria tangguh ini menangis. Tangisannya semakin besar, semakin menyayat hati. Aku pun tak sanggup melihat hal itu. Kakek berulang kali mengelap air matanya, berulang kali pula isak tangis itu terdengar tanpa putus. Semua orang yang berada di ruangan tersebut tidak dapat menahan kesedihan yang ada. Satu per satu menangis melihat kejadian itu. Aku pun juga demikian. Yang kulihat saat ini adalah sosok Kakek yang sangat berbeda. Kakek yang begitu rapuh.
Semua prosesi di Rumah Duka berjalan dengan lancar. Mulai dari Malam Penghiburan, Malam Kembang, hingga Pemakaman.
Singkat cerita, aku sudah benar-benar tidak dapat melihat wajah Nenek lagi. Beliau sudah berada di dunia yang berbeda dengan dunia yang aku tinggali saat ini. Dibalik kesedihan yang ada, setidaknya ada perasaan lega di hatiku. Satu hal yang aku percaya, Nenek sudah bahagia di alam sana. Dia pasti masuk Surga. Nenek adalah orang yang sangat baik, orang yang sabar, sayang kepada keluarga, dan juga sayang pada Tuhan. Itulah yang membuatku merasa lebih tenang.
Namun ada satu hal yang membuatku khawatir.
Semakin hari, keadaan Kakekku semakin memburuk. Ia sering menangis sendiri di kamar. Ia juga sering mengalami mimpi buruk. Yang paling mengkhawatirkan adalah kesehatannya. Kulihat ia sering terjatuh saat malam hari dari atas tempat tidur. Badannya pun dipenuhi oleh memar akibat jatuh dari tempat tidur. Tidak hanya itu, pandangannya juga terlihat kosong sehari-harinya.
Karena khawatir, orang tuaku membawa Kakek ke rumah sakit untuk di cek kesehatannya. Ia mengikuti berbagai macam tes, mulai dari tes urine, tes kesehatan mata, hingga tes MRI. Hasil tes baru keluar tiga hari lagi sehingga kami pulang setelah tes dilakukan.
Tiga hari kemudian, hasil tes pun sudah keluar. Dokter menghubungi Mami untuk datang mengambil hasil tes dan mendengarkan diagnosa dari dokter dan rumah sakit mengenai kesehatan Kakek.
"Beliau mengidap kanker, Bu. Kanker Prostat, Stadium 3," kata Dokter.
"Dok, Anda tidak salah diagnosa, kan? Ini kanker dok, stadium 3?" tanya Mami.
"Iya, Bu. Ini tidak salah diagnosa. Kanker ini memang biasa menyerang pria yang berusia lanjut tanpa gejala apapun," Dokter menjelaskan.
"Oh begitu ya Dok. Lalu pengobatannya bagaimana, Dok?"
"Nanti saya kasih obat hormon untuk mencegah perkembangan dari sel kanker yang ada. Tolong diperhatikan pola makan dan kebutuhan airnya agar pencernaannya lancar ya, Bu."
Begitu kata Dokter tanpa panjang lebar. Mami pun mengurus pembayaran dan penebusan obat hormon untuk Kakek. Setelah itu kami pulang kerumah.
***
Semakin hari, keadaan Kakek semakin memburuk. Ia sulit untuk menggerakkan tubuhnya. Ia sulit untuk duduk, berdiri, mandi, dan kegiatan lainnya. Semua ia lakukan dengan bantuan Mami ataupun bantuanku. Kanker sudah menyebar ke bagian tulangnya sehingga ia sulit untuk bergerak.
Keadaan kakek yang semakin memburuk ini membuatku berpikir begitu dalam.
Bagaimana bisa seseorang mempengaruhi hidup Kakek begitu dalam sampai-sampai kehilangan dirinya saja bisa membuat Kakek menjadi seperti ini?
Keadaan Kakek begitu kacau karena kehilangan Nenek.
Satu hal yang membuatku kagum adalah, Kakek mencintai Nenek sampai lanjut usianya. Hebat. Itu adalah cinta sejati yang sesungguhnya menurutku. Bukan seperti kisah Romeo dan Juliette, yang jatuh cinta pada pandangan pertama, berjuang melawan kedua orang tuanya demi orang yang dicintainya, lalu bunuh diri demi orang yang dicintainya. Bukan juga seperti kisah Jack dan Rose, yang jatuh cinta dalam sebuah kapal mewah, lalu rela mati untuk orang yang dicintainya.
Keputusan Kakek untuk mencintai Nenek sampai lanjut usia adalah kisah cinta yang lebih hebat daripada kisah Romeo dan Juliette maupun kisah Jack dan Rose.
Walaupun sekarang Kakek hanya bisa berbaring di ranjang, walaupun sekarang Kakek sulit untuk bergerak, walaupun sekarang Kakek hanya bisa memandang langit-langit kamar yang sudah kumuh, Kakek tetap menjabat sebagai pria hebat di benakku. Pria tangguh yang sayang kepada Nenek.

0 komentar